GAYA KEPEMIMPINAN (Leadership Style)

Disusun oleh::

Nuracece1, Nurul Hisani2, Reski Saftar3, Saldi4, Helina5, Nilan Alansari6

A. Pendahuluan

Secara sederhana, kepemimpinan adalah proses mempengaruhi perilaku orang lain terhadap pencapaian tujuan dalam situasi tertentu. Menurut George R. Terry, “kepemimpinan adalah kegiatan memengaruhi orang untuk berjuang dengan sukarela untuk tujuan kelompok.” Definisi ini memberikan penekanan langsung pada kemauan dari pihak orang-orang memimpin. Koontz dan O’Donnell mendefinisikan kepemimpinan sebagai “memengaruhi orang untuk mengikuti pencapaian tujuan bersama. Ini adalah kemampuan untuk mengerahkan pengaruh interpersonal dengan cara komunikasi menuju pencapaian tujuan. “Menurut ensiklopedia ilmu sosial,” kepemimpinan adalah hubungan antara individu dan kelompok di sekitar beberapa kepentingan bersama dan berperilaku dengan cara yang diarahkan atau ditentukan olehnya.”[1] Didalam penulisan makalah ini, penulis akan menjelaskan tentang pengertian gaya kepemimpinan, macam-macam gaya kepemimpinan, teori managerial grid, model kepemimpinan kontigengsi, gaya kepemimpinan tigadimensi dan teori kepemimpinan situasional.

B. Pembahasan

  1. Pengertian Gaya Kepemimpinan

Gaya (style) menurut Kamus Bahasa Inggris berarti Particular, distinctive, elegant, mode, descriptive and characteristic[2]. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sikap, gerakan dan ragam.[3] Kata ‘gaya’ memiliki makna yang beragam sesuai bidang kajian yang menggunakannya.. Sedangkan kepemimpinan (Leadership) berarti The potion, function or guidance, ability.[4]Dalam bahasa Indonesia kepemimpinan berasal dari kata ‘pimpin’ berarti dibimbing atau dituntun. Pemimpin berarti orang yang memimpimpin atau petunjuk. Kepemimpinan berarti perihal memimpin atau cara mempimpin.[5] Menurut Ralp M. Stogdill kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan kelompok yang diorganisir menuju kepada penentuan dan pencapaian tujuan.[6] Pandangan yang lain dikemukakan oleh Peter Drucker, “kepemimpinan adalah mengangkat visi manusia ke pemandangan yang lebih tinggi, meningkatkan kinerja manusia ke standar yang lebih tinggi, membangun kepribadian manusia di luar batas normal.”[7] Robert Dubin menjelaskan kepemimpinan dalam organisasi berarti penggunaan kekuasaan dan pembuatan keputusan-keputusan.[8] Gary Wills mendefinisikan pemimpin adalah orang yang memobilisasi orang lain menuju tujuan yang dibagikan oleh para pemimpin dan pengikut. “Para pemimpin, pengikut dan tujuan menjadikan ketiga dukungan yang sama-sama diperlukan untuk kepemimpinan.”[9]

Dengan demikian Kepemimpinan dan kelompok adalah dua hal yang tidak dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Tak ada kelompok tanpa adanya kepemimpinan, dan sebaliknya kepemimpinan hanya ada dalam situasi interaksi kelompok. Seseorang tidak dapat dikatakan pemimpin jika ia berada diluar kelompok, ia harus berada dalam suatu kelompok dimana ia memainkan peran-peran dan kegiatan-kegiatan kepemimpinannya.[10]Adapun pengertian gaya kepemimpinan menurut kelompok kami adalah cara khusus untuk mempengaruhi atau memotivasi orang lain untuk bekerja sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

  1. Macam-macam Gaya Kepemimpinan

Berdasarkan konsep, sifat, sikap, dan cara-cara pemimpin tersebut melakukan dan mengembangkan kegiatan kepemimpinan dalam lingkungan kerja yang dipimpinnya, maka kepemimpinan diklasifikasikan kedalam empat gaya, yaitu:

1. Kepemimpinan otokratis, juga dikenal sebagai kepemimpinan otoriter, adalah gaya kepemimpinan yang ditandai oleh kontrol individu atas semua keputusan dan sedikit masukan dari anggota kelompok. Para pemimpin otokratis biasanya membuat pilihan berdasarkan ide dan penilaian mereka dan jarang menerima nasihat dari pengikut. Kepemimpinan otokratis melibatkan kontrol mutlak dan otoriter atas suatu kelompok.[11] Gaya kepemimpinan otoriter dicontohkan ketika seorang pemimpin menentukan kebijakan dan prosedur, memutuskan tujuan apa yang ingin dicapai, dan mengarahkan serta mengendalikan semua kegiatan tanpa partisipasi yang berarti dari bawahan. Pemimpin seperti itu memiliki kendali penuh atas tim, meninggalkan otonomi rendah di dalam kelompok. Pemimpin memiliki visi dalam pikiran dan harus mampu memotivasi kelompok mereka secara efektif untuk menyelesaikan tugas. Kelompok ini diharapkan untuk menyelesaikan tugas-tugas di bawah pengawasan yang sangat dekat, sementara otoritas yang tidak terbatas diberikan sendiri oleh pemimpin. Respon bawahan terhadap perintah yang diberikan dapat dihukum atau dihargai. [12]

2. Gaya“Laissaz-faire”. Kepemimpinan Laissez-faire, juga dikenal sebagai kepemimpinan delegatif, adalah jenis gaya kepemimpinan di mana para pemimpin lepas tangan dan memungkinkan kelompok untuk membuat keputusan. Para peneliti telah menemukan bahwa ini umumnya gaya kepemimpinan yang memiliki produktivitas terendah di antara anggota kelompok. [13] Kepemimpinan Laissez Faire adalah gaya kepemimpinan yang sangat pasif. Para pemimpin Laissez-faire juga menawarkan sumber daya tertentu, tetapi jangan mengawasi proses dan percaya bahwa karyawan dapat bekerja menuju solusi sendiri. Itu berarti bahwa karyawan itu sendiri. Mereka memutuskan sendiri apa cara yang benar dan salah dalam melakukan sesuatu. Kepemimpinan Laissez Faire adalah tentang memberikan kebebasan karyawan. Bahaya dari gaya ini adalah bahwa manajer dapat dianggap tidak terlibat, acuh tak acuh atau tidak terlibat.[14]

3. Gaya Demokratis. Kepemimpinan demokratis, juga dikenal sebagai kepemimpinan partisipatif atau kepemimpinan bersama adalah jenis gaya kepemimpinan di mana anggota kelompok mengambil peran yang lebih partisipatif dalam proses pengambilan keputusan. Jenis kepemimpinan ini dapat berlaku untuk organisasi apa saja, dari bisnis swasta hingga sekolah hingga pemerintah. [15] Gaya kepemimpinan demokratis berarti memfasilitasi percakapan, mendorong orang untuk membagikan ide-ide mereka dan kemudian mensintesis semua informasi yang tersedia ke dalam keputusan terbaik. Pemimpin yang demokratis juga harus dapat mengkomunikasikan keputusan itu kembali kepada kelompok untuk membawa kesatuan rencana yang dipilih. [16]

4. Gaya Pseudo-demokratis. Gaya ini disebut juga demokratis semua atau manipulasi diplomatik. Pemimpin yang bertipe pseudo-demokratis hanya tampaknya saja bersikap demokratis padahal sebenarnya dia bersikap otokratis. Misalnya jika ia mempunyai ide-ide, pikiran, konsep-konsep yang ingin di terapkan di lembaga yang dipimpinnya, maka hal tersebut didiskusikan dan dimusyawarahkan dengan bawahannya, tetapi situasi diatur dan diciptakan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya bawahan didesak agar menerima ide/pikiran/konsep tersebut sebagai keputusan bersama.[17]

  1. Teori kepemimpinan managerial grid

            Model grid manajerial (1964) adalah gaya model kepemimpinan yang dikembangkan oleh Robert R. Blake dan Jane Mouton. Model ini pada awalnya mengidentifikasi lima gaya kepemimpinan yang berbeda berdasarkan pada kepedulian terhadap orang-orang dan kepedulian terhadap produksi. Gaya kepemimpinan optimal dalam model ini didasarkan pada Teori Y. Teori grid terus berkembang dan berkembang. Teori ini diperbarui dengan dua gaya kepemimpinan tambahan dan dengan elemen baru, ketahanan.[18] Gaya-gaya ini adalah hubungan antara kepedulian manajer terhadap orang, kepedulian terhadap produksi dan motivasinya. Dimensi motivasi benar-benar memberikan motif yang mendasari pemimpin di balik gaya kepemimpinan yang sukses. [19]Pada dasarnya teori  managerial grid mengenal lima gaya kepemimpinan yang didasarkan atas dua aspek  utama tadi yaitu pertama menekankan pada produksi (concern for production) dan yang kedu menekankan pada hubungan antar indifidu (concern for people). Kelima gaya kepemimpinan sebagai hasil kombinasi antara dua aspek tersebut yaitu: a) Improverished artinya pemimpin menggunakan usaha yang paling sediakana untuk menyelesaikan tugas tertentu dan hal ini dianggap cukup untuk mempertahankan organisasi. b) Country club artinya kepemimpinan yang didasarkan kepada hubungan informal antara individu, keramah tamahan dan kegembiraan. c) Team yang berarti keberhasilan suatu organisasi tergantung kepada hasil kerja sejumlah individu yang penuh pengabdian. d) Task arinya pemimpin memandang efisiensi kerja sebagai faktor utama untuk keberhassilan organisasi. e). Midie road artinya tengah-tengah. Yang menjadi tekanan pada gaya ini ialah pada keseimbangan yang optimal antara tugas dan hubungan manusiawi.[20]

  1. Model kepemimpinan kontingensi

            The Fiedler Contingency Model diciptakan pada pertengahan 1960-an oleh Fred Fiedler, seorang ilmuwan yang mempelajari kepribadian dan karakteristik para pemimpin. Model tersebut menyatakan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan terbaik. Sebaliknya, efektivitas pemimpin didasarkan pada situasi. Ini adalah hasil dari dua faktor – “gaya kepemimpinan” dan “kebaikan situasional” (kemudian disebut “kontrol situasional”). [21]Model kontingensi Fiedler adalah model dinamis di mana karakteristik pribadi dan motivasi pemimpin dikatakan berinteraksi dengan situasi saat ini yang dihadapi kelompok.[22] Berdasarkan pendapat fiedler tersebut, maka situasi organisasi atau lembaga dikatakan menguntungkan dalam arti menentukan keberhasilan pemimpin jika: a) Hubungan pemimpin dengan anggota bawahan baik, pemimpin disenangi oleh anggota kelompoknya dan ditaati segala printahnya. b) Struktur tugas-tugas terinci dengan jelas dan dipahami oleh tiap anggota kelompok, setiap anggota memiliki wewenang dan tanggung jawab masing-masing secara jelas, sesuai dengan funngsinya. c) Kedudukan kekuasaan formal pemimpin kuat dan jelas sehingga memperlancar usahanya untuk mempengaruhi anggota kelompoknya. Dilihat dari tingkatannya, masing-masing variabel dibedakan menjadi dua kategori sebagai berikut: hubungan pemimpin anggota baik dan tidak baik derajat struktur tugas: tinggi dan rendah, kedudukan kekuasaan pemimpin: kuat dan lemah.[23]

  1. Model kepemimipinan tiga dimensi

            Pendekatan atau model kepemimpinan dikemukakan oleh williaw J. Reddin. Model ini dinamakan three dimensional model karena dalam pendekatannya menghubungkan tiga kelompok kepemimpinan, yang disebut gaya dasar, gaya efektif, dan gaya tidak efektif menjadi satu kesatuan. Berdasarkan dua perilaku kepemimpinan, yaitu berorientasi kepada orang (peopel oriented dan berorientasi kepada tugas (task orientasi), masing-masing kelompok gaya kepemimpinan tersebut menjadi empat macam gaya.[24] Model 3-D telah mempertimbangkan keyakinan grid manajerial dan menambahkan satu dimensi lagi ke dalamnya yaitu Efektivitas. Efektivitas berarti mengetahui apa hasilnya ketika seseorang menggunakan gaya kepemimpinan tertentu dalam situasi tertentu.
Dengan demikian, sumbu tiga dimensi mewakili “orientasi tugas”, “orientasi hubungan” dan “efektivitas”. Orientasi tugas berarti sejauh mana atasan mengarahkan upaya bawahannya menuju pencapaian tujuan. Orientasi hubungan berarti sejauh mana manajer memiliki hubungan pribadi dengan bawahannya dan akhirnya, efektivitas berarti sejauh mana manajer berhasil.[25]

  1. Teori kepemimpinan situasional

            Teorri kepemimpinan situasional dikembangkan oleh paul Hersey dan Keneth H. Blachard. Teori kepemimpinan situasional merupakan perkembangan yang mutakhir dari teori kepemimpinan dan merupakan hasil baru dari model  kefektifan pemimpin tiga dimensi model ini didasarkan pada hubungan garis lengkung atau “curva linear” diantara perilaku tugas dan perilaku hubungan dan kematangan. [26] Teori kepemimpinan situasional menunjukkan bahwa tidak ada gaya kepemimpinan tunggal yang terbaik. Sebaliknya, itu semua tergantung pada situasi yang dihadapi dan jenis kepemimpinan dan strategi apa yang paling cocok untuk tugas tersebut. Menurut teori ini, pemimpin yang paling efektif adalah mereka yang mampu menyesuaikan gaya mereka dengan situasi dan melihat isyarat seperti jenis tugas, sifat kelompok, dan faktor-faktor lain yang mungkin berkontribusi untuk menyelesaikan pekerjaan.[27]

C. Penutup

  1. Kesimpuan

Kepemimpinan merupakan sumbangan dari seseorang didalam situasi-situasi kerjasama. Kepemimpinan dan kelompok adalah dua hal yang tidak dipisahkan antara yang satu den gan yang lain. Adapun pengertian gaya kepemimpinan menurut kelompok kami adalah cara khusus untuk mempengaruhi atau memotivasi orang lain untuk bekerja sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Berdasarkan konsep, sifat, sikap, dan cara-cara pemimpin tersebut melakukan dan mengembangkan kegiatan kepemimpinan dalam lingkungan kerja yang dipimpinnya, maka kepemimpinan diklasifikasikan kedalam empat gaya, yaitu: Gaya otoriter, Gaya “Laissaz-faire”, Gaya Demokratis, Gaya Pseudo-demokratis. Teori kepemimpinan managerial grid. Teori ini dikemukakan oleh Robert K. Blake dan Jane S. Mounton yang membedakan dua dimensi dalam kepemimpinan yaitu: “concern for people” dan “concern for production”. Pada dasarnya teori managerial grid mengenal lima gaya kepemimpinan yang didasarkan atas dua aspek utama tadi yaitu pertama menekankan pada produksi (concern for production) dan yang kedu menekankan pada hubungan antar indifidu (concern for people). Model kepemimpinankontigensi, model kepemimpinan ini dikembangkan oleh fred E. Fiedier. Dia berpendapaat bahwa keberhasilan seseorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh suatu gaya kepemimpinan yang diterapkannya. Seorang pemimpin akan cenderung berhasil dalam menjalankan kepemimpinannya apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang berlahan untuk menghadapi situasi yang berbeda. Model kepemimpinan tigadimensi,pendekatan atau model kepemimpinan dikemukakan oleh williaw J. Reddin. Model ini dinamakan three dimensional model karena dalam pendekatannya menghubungkan tiga kelompok kepemimpinan, yang disebut gaya dasar, gaya efektif, dan gaya tidak efektif menjadi satu kesatuan.

  1. Saran

Demikianlah makalah ini yang penulis paparkan. Didalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharap kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun guna untuk perbaikan makalah ini. Semogah makalah  ini bermanfaat bagi kami teutama dan bagi pembaca.

Daftar Pustaka

The Macquarie, Dictionary, Australia: Maquary Library, 1982.

KamusBesar Bahasa Indonesia, Surakarta: BalaiPustaka, 1999.

Usman Husaini ,ManajemenTeori, Praktik dan RisetPendidikan, Jakarta: BumiAksara, 2014.

Tim DosenAdmistrasi Pendidikan Universitas Indonesia, Manajemen Pendidikan,Bandung: Alfabeta, 2009.

http://smartlearningway.blogspot.com/2015/01/definition-meaning-of leadership.html. Diakses pada tanggal 27 Desember 2018.

http://alprimaan12.blogspot.com/2016/05/pengertian-kepemimpinan-leadership.html. Diakses pada tanggal 26 Desember 2018.

http://lusysaycin07.blogspot.com/2014/04/40-pengertian-kepemimpinan-menurut-para.html. Diakses pada tanggal 27 Desember 2018.

http://mightyrasing.com/what-is-leadership-18-definition-of-leadership/. Diakses pada tanggal 27 Desember 2018.

https://www.verywellmind.com/what-is-autocratic-leadership-2795314. Diakses pada tanggal27 Desember 2018.

https://en.wikipedia.org/wiki/Authoritarian_leadership_style . Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

https://www.verywellmind.com/what-is-laissez-faire-leadership-2795316. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

https://www.toolshero.com/leadership/laissez-faire-leadership/ . Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

https://www.verywellmind.com/what-is-democratic-leadership-2795315 . Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

https://www.leadership-toolbox.com/democratic-leadership-style.html. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

https://en.wikipedia.org/wiki/Managerial_grid_model. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

https://www.leadership-central.com/managerial-grid.html. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

https://www.mindtools.com/pages/article/fiedler.htm. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

https://en.wikipedia.org/wiki/Fiedler_contingency_model. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

https://businessjargons.com/reddin-3-d-leadership-model.html . Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

https://www.verywellmind.com/what-is-the-situational-theory-of-leadership-2795321. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

[1]http://smartlearningway.blogspot.com/2015/01/definition-meaning-of-leadership.html. Diakses pada tanggal 27 Desember 2018.

[2]The Macquarie, Dictionary, (Australia: Maquary Library, 1982), h. 1716.

[3]Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Surakarta: Balai Pustaka, 1999), h.297

[4]The Marque, Dictionary, h. 1000.

[5] Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indoonesia,Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 769.

[6] http://alprimaan12.blogspot.com/2016/05/pengertian-kepemimpinan-leadership.html. Diakses pada tanggal 26 Desember 2018.

[7] http://smartlearningway.blogspot.com/2015/01/definition-meaning-of-leadership.html. Diakses pada tanggal 27 Desember 2018.

[8] http://lusysaycin07.blogspot.com/2014/04/40-pengertian-kepemimpinan-menurut-para.html. Diakses pada tanggal 27 Desember 2018.

[9] http://mightyrasing.com/what-is-leadership-18-definition-of-leadership/. Diakses pada tanggal 27 Desember 2018.

[10]Husaini Usman, ManajemenTeori, Praktik dan RisetPendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h. 125.

[11]https://www.verywellmind.com/what-is-autocratic-leadership-2795314. Diakses pada tanggal27 Desember 2018.

[12]https://en.wikipedia.org/wiki/Authoritarian_leadership_style . Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

[13]https://www.verywellmind.com/what-is-laissez-faire-leadership-2795316. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

[14]https://www.toolshero.com/leadership/laissez-faire-leadership/ . Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

[15]https://www.verywellmind.com/what-is-democratic-leadership-2795315 . Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

[16]https://www.leadership-toolbox.com/democratic-leadership-style.html. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

[17]Tim DosenAdmistrasi Pendidikan Universitas Indonesia, Manajemen Pendidikan,(Bandung: Alfabeta, 2009), h. 127.

[18]https://en.wikipedia.org/wiki/Managerial_grid_model. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

[19]https://www.leadership-central.com/managerial-grid.html. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

[20]Tim DosenAdmistrasi Pendidikan Universitas Indonesia, Manajemen Pendidikan, h. 133.

[21]https://www.mindtools.com/pages/article/fiedler.htm. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

[22]https://en.wikipedia.org/wiki/Fiedler_contingency_model. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

[23]Tim DosenAdmistrasi Pendidikan Universitas Indonesia, Manajemen Pendidikan, h. 135.

[24]Tim DosenAdmistrasi Pendidikan Universitas Indonesia, Manajemen Pendidikan, h. 136.

[25]https://businessjargons.com/reddin-3-d-leadership-model.html . Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

[26]Tim DosenAdmistrasi Pendidikan Universitas Indonesia, Manajemen Pendidikan, h. 137.

[27]https://www.verywellmind.com/what-is-the-situational-theory-of-leadership-2795321. Diakses pada tanggal 28 Desember 2018.

Gaya Kepemimpinan oleh MPI 3 A

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *